Ringkasan Puisi Percakapan Malam Hujan Karya Sapardi Djoko Damono

  • Tentang Puisi

Puisi ini ditulis pada tahun 1973 dan diterbitkan di dalam antologinya yang berjudul Hujan Bulan Juni oleh penerbit Grasindo pada tahun 1994.

  • Tentang Penulis

Sapardi dilahirkan di desa Baturono, Solo, pada tanggal 20 Maret 1940, yang berdasarkan kalender Jawa merupakan bulan Sapar, yang mungkin menjelaskan darimana nama Sapardi itu berasal. Sapardi tumbuh besar ditengah-tengah berkecamuknya perang kemerdekaan. Pemandangan seperti bom yang dijatuhkan ke rumah-rumah besar merupakan hal yang biasa bagi Sapardi kecil.

Sejak dari tahun 1943, ketika keluarga Sapardi kecil memutuskan untuk pindah dari rumah kakeknya, Sapardi hidup berpindah-pi
ndah karena mereka mencari tempat tinggal yang tidak terlalu banyak hiruk pikuknya, dan akhirnya pada tahun 1957, keluarga Sapardi kecil menetap di Komplang, sebuah desa kecil tetapi memiliki suasana yang tenang dan tanah yang luas.

Desa Komplang merupakan desa yang belum memiliki listrik dan desa itu pun adalah desa yang sangat sepi karena belum banyak ditempati oleh orang-orang. Oleh karena itu, karena banyaknya waktu luang dan tidak ada banyak kegiatan yang bisa dia lakukan dan dia dapat menikmati kesendiriannya, Sapardi mulai mengembangkan bakat menulisnya dan karya pertamanya yang berupa sajak dimuat di majalah kebudayaan di Semarang sebulan setelah dia belajar menulis.

Dan semenjak saat itu, bakat menulis Sapardi terus berkembang seiring umurnya bertambah dan dia telah menjadi salah satu sastrawan yang terkenal dan hebat di Indonesia dengan-dengan karya-karyanya yang indah dan menawan.

Karya-karya sastra yang telah dia hasilkan antara lain: Kumpulan Puisi/Prosa “Duka-Mu Abadi”, Bandung (1969); “Lelaki Tua dan Laut” (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway); “Mata Pisau” (1974); “Sepilihan Sajak George Seferis” (1975; terjemahan karya George Seferis); “Puisi Klasik Cina” (1976; terjemahan); “Lirik Klasik Parsi” (1977; terjemahan); “Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak” (1982, Pustaka Jaya); “Perahu Kertas” (1983); “Sihir Hujan” (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia); “Water Color Poems” (1986; translated by J.H. McGlynn); “Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono” (1988; translated by J.H. McGlynn); “Afrika yang Resah (1988; terjemahan); “Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia”; (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks); “Hujan Bulan Juni” (1994); “Black Magic Rain” (translated by Harry G Aveling); “Arloji” (1998); “Ayat-ayat Api” (2000); “Pengarang Telah Mati” (2001; kumpulan cerpen); “Mata Jendela” (2002); “Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?” (2002); “Membunuh Orang Gila” (2003; kumpulan cerpen); “Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an – 1910an)” (2005; salah seorang penyusun); “Mantra Orang Jawa” (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia); “Kolam” (2009; kumpulan puisi).


Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Herman Karya Sutardji Calzoum Bachri

Ringkasan Puisi Percakapan Malam Hujan Karya Sapardi Djoko Damono

Puisi ini berlatar belakang di sebuah jalan lengkap dengan baris-baris lampu penerang jalan dan yang di sela-sela dari lampu penerang jalan tersebut terdapat tiang listrik. Kondisi jalanan yang sepi dari manusia di malam hari, memberikan suasana mencekam dan dingin, dan ditambah dengan turunnya hujan, yang membuat suasana semakin dingin dan suasana mencekam berubah menjadi semakin kelam, menghanyutkan dan juga tenang.

Hujan, yang turun dengan derasnya, menghampiri salah satu lampu, sembari bersandar kepada tiang listrik yang dekat dengan lampu tersebut, meminta lampu tersebut untuk beristirahat, menutup matanya untuk tidur karena hujan sudah ada disana dan dia bisa menjaga malam agar tetap aman dan nyaman bagi para manusia dengan memberikan ketenangan dan irama merdu dari suara air hujan yang jatuh ke daratan.

Tetapi di balik ketenangan dan irama merdu yang dikeluarkan oleh hujan, lampu menyadari bahwa apa yang dibawa oleh hujan untuk manusia selain ketenangan dan irama merdu. Hujan juga membawa suasana serba gelap, kelam, dan gaib yang bersatu padu dengan ketenangan dan irama merdu yang dikeluarkan oleh hujan.

Suasana serba gelap, kelam, dan gaib tersebut tidak akan terlihat oleh manusia di awal ketika hujan tersebut jatuh. Manusia hanya akan merasakan ketenangan dan irama merdu yang syahdu, tetapi ketika manusia telah terlarut di dalam hujan dan mendengar suara petir, merasakan betapa dinginnya hujan dan akan mendesah khawatir apa yang akan terjadi jika hujan tidak segera reda, mereka akan menyadari betapa gelap, kelam dan gaib suasana yang berada dibalik ketenangan tersebut. Mereka akan menyadari bahwa ketenangan tersebut berasal dari kegelapan dan kekelaman yang dibawa oleh hujan.

Also Read:  Analisis Puisi Hari Ini Seperti Juga Kemarin Karya Seno Gumira Ajidarma

Maka, lampu jalan pun membalas godaan dari hujan dengan berkata bahwa hujan selalu membawa kegelapan,kekelaman, dan kegaiban yang dia sukai, serta suara desah dari manusia yang khawatir dan gelisah akan suasana kegelapan, kekelaman, dan kegaiban yang dibuat oleh hujan, yang tersembunyi dibawah tudung ketenangan dan irama merdu hujan yang pertama kali mereka rasakan.

Lampu kemudian berkata, bahwa hujan sudah memiliki banyak tempat yang dia kuasai yaitu laut, yang merupakan tempat asalnya; langit yang merupakan tempat perpindahanya setelah dari laut; dan bumi, yang merupakan tempat terakhirnya untuk singgah, sebelum hujan akan kembali ke lautan. Lampu merasa bahwa hujan tidak perlu lagi menguasai atau menjaga malam. Sudah terlalu banyak yang dia jaga, sehingga lampu meminta hujan untuk kembali ke tempat asalnya, yaitu laut, langit atau bumi.

Lampu juga memberitahu alasan bagi hujan mengapa lampu tidak bisa digantikan olehnya dan lampu tidak bisa tidur atau beristirahat; lampu, dengan penerangannya, akan selalu menjadi teman dari manusia karena manusia memerlukan lampu untuk menerangi malam-malam mereka, sehingga manusia akan merasa nyaman dan tenang, karena lampu menerangi malam mereka sehingga manusia dapat  melihat di waktu malam dengan jelas.

Walaupun hujan juga dapat memberikan ketenangan bagi para manusia, tetapi ketenangan tersebut berbeda dengan yang diberikan oleh lampu. Lampu, memberikan manusia ketenangan dalam aktivitas mereka, sedangkan hujan memberikan ketenangan yang menghanyutkan, menarik manusia untuk terjebak di dalam kegelapan, kekelaman dan kegaiban yang dibawanya sehingga pada akhirnya manusia akan gelisah karena adanya hujan, dan hujan sangat menyukai hal tersebut.