Analisis Puisi Terompet Karya Seno Gumira Ajidarma

  • Analisis Puisi Terompet Karya Seno Gumira Ajidarma

Puisi ini ditulis di Dili, di tahun 1991, oleh Seno yang terinspirasi dengan sebuah insiden yang terjadi Dili, Timor Timur. Pada saat itu, pada tanggal 12 November di tahun dan di tempat yang sama 271 demonstran tewas, 382 terluka, dan 250 lainnya menghilang akibat serangan dari pasukan Indonesia yang menembaki mereka. Para demonstran yang mayoritas adalah mahasiswa, mereka berkumpul untuk menghadiri pemakaman salah satu teman mereka yang ditembak mati oleh pasukan Indonesia, sebulan sebelum insiden ini terjadi.

Peristiwa ini menjadi berita yang sangat menghentak dunia pada tahun 1992, karena adanya beberapa juru kamera mancanegara yang  berhasil mendokumentasikan kejadian tersebut dan menyebarkannya ke seluruh dunia dan bahkan telah dibuat dokumenter mengenai kejadian ini di Inggris dan disiarkan di salah satu saluran televisi disana.

Puisi ini dibuat Seno untuk menunjukkan dukungannya dan kritiknya terhadap perlakuan pemerintah dalam membunuh, melukai, menculik para demonstran yang berdemo menuntut nasib mereka di Timor Timur dan menuntut kemerdekaan mereka. Seno, mengkritik bagaimana pemerintah bisa seenaknya saja membunuh orang-orang yang  mempertanyakan dimanakah keadilan dan kemerdekaan mereka, yang seharusnya sudah mereka dapatkan karena Indonesia sudah merdeka lebih dari 40 tahun, tetapi Timor Timur tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi merdeka.

Puisi ini menjadi bukti nyata bagaimana pada saat itu pemerintah Indonesia dengan kejam dan tidak berbelas kasihan membunuh, melukai, dan menculik rakyat mereka sendiri yang menuntut kemerdekaan dan nasib dari Timor Timur, yang mana merupakan salah satu bagian dari negara Indonesia. Pemerintah seharusnya melindungi mereka, memberikan kepastian untuk mereka, tetapi dalam insiden ini yang terjadi adalah kebalikannya, pemerintah Indonesia berusaha membungkam mereka yang menuntut pemerintah dengan menyerang mereka disaat mereka sedang berkumpul dan sedang menghadiri pemakaman salah satu teman dari mereka yang sebelumnya telah ditembak mati oleh pemerintah.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar

Puisi ini, selain menjadi bukti nyata, juga berguna sebagai salah satu karya yang menyimpan sejarah kelam Indonesia, dan pada saat itu, puisi ini membantu mengingatkan semua orang bagaimana kuatnya pemerintah dan bagaimana kejam dan liciknya pemerintahan pada saat itu, yang melakukan hal terkeji apapun untuk menjaga nama baik mereka.

Ide utama dari puisi ini adalah sebagai karya untuk mengkritik kelakuan pemerintah Indonesia dalam insiden Dili di tahun 1991. Seno ingin membuat karya yang selain sebagai bukti nyata dari kejadian tersebut, tetapi juga sebagai penghormatan kepada para demonstran yang menuntut kejelasan nasib dan kemerdekaan mereka. Pemerintah membunuh, melukai, menculik ratusan demonstran untuk membungkam mulut mereka, yang mana seharusnya mereka sebagai pihak yang mengatur negara Indonesia, melindungi mereka dan memberikan apa yang mereka seharusnya dapatkan sejak sekitar 40 tahun yang lalu: kemerdekaan.

Seno membuat puisi ini sebagai pengingat bagaimana kejamnya pemerintah pada saat itu, yang menyerang para demonstran yang sedang berkabung di dalam pemakaman salah satu teman dari mereka, yang juga menuntut hal yang sama, ditembak mati oleh pemerintah Indonesia. Seno ingin mengingatkan bahwa Indonesia memiliki masa yang sangat kelam di masa lalu yang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh sejarah.

Puisi ini menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi sudut pandang orang pertama ini tidak digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, tetapi digunakan untuk menunjukkan bagaimana tokoh dalam puisi ini, seorang pemain terompet berbicara kepada dirinya sendiri dalam hati, merenungi kelakukan pemerintah dalam insiden Dili pada tahun 1991. Pemakaian kata “Aku” yang terdapat di setiap baris pertama dari setiap bait yang digabungkan dengan kata kerja “tiup” menjadi “kutiup” menjadi bukti bagaimana puisi ini menggunakan sudut pandang orang utama.


Also Read:  Ringkasan Puisi Aku Berada Kembali Karya Chairil Anwar
  • Repetisi:

Di puisi ini, juga terdapat repetisi di setiap baris pertama dari keempat bait dari puisi tersebut, yang ditulis dengan tanda petik dan ditulis dengan format italic atau miring, yang juga berfungsi sebagai penanda pergantian topik dan permulaan dari sebuah bait. Kalimat yang diberikan tanda petik dan ditulis dengan format miring tersebut adalah kalimat “Seharusnya kutiup kau malam itu.”

  • Simbolisme:

Simbolisme di dalam puisi ini hanya terdapat di baris terakhir dari bait keempat di puisi ini, yaitu baris “kita tidak bicara politik saat sarapan” yang menunjukkan bahwa pemain terompet tersebut sedang berada di tempat dimana orang-orang yang sarapan di tempat tersebut adalah orang yang bekerja di dunia yang berhubungan dengan politik, tetapi dia tidak merasa pantas jika dia menyampaikan renungannya, dan juga dia adalah seorang pemain terompet yang tidak memiliki kuasa atau wewenang apapun untuk membicarakan hal tersebut kepada mereka. Baris ini menjadi simbol yang menunjukkan siapa yang sedang sararapan di hadapan sang pemain terompet, dan karena pemain terompet menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bekerja di bidang politik dengan merasa tidak pantas jika berbicara politik di saat sedang sarapan. Orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan hal-hal yang berbau politik sudah jelas bahwa mereka adalah orang yang bekerja di pemerintahan.

Tema yang digunakan dalam puisi ini adalah terompet. Seno menulis puisi ini dengan menjadikan terompet sebagai objek yang dibuat sebagai pemicu yang membuat tokoh utama di dalam puisi ini, yaitu sang pemain terompet menyampaikan renungannya mengenai orang-orang yang dibunuh dan menjadi korban dari kejahatan orang lain. Terompet disini juga sebagai objek yang diimajinasikan oleh sang pemain terompet seandainya hanya dengan memainkan terompet tersebut, orang-orang yang terbunuh tersebut dapat bangkit kembali dan memberikan kesaksian dan meminta pertanggungjawaban dari mereka yang telah membunuh orang-orang tersebut. Terompet menjadi objek penting untuk membawa alur cerita puisi ini.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Gadis Peminta-minta Karya Toto Sudarto Bachtiar

Suasana yang ditunjukkan di dalam puisi ini adalah suasana pengharapan dan kebencian yang ditunjukkan dari renungan sang pemain terompet, yang berisi harapannya agar terompetnya dapat membangkitkan mereka yang terkubur tanpa batu nisan, mereka yang mati tertembak ketika sedang berjalan ke gereja, dan menunjukkan kegeraman, bagaimana sang pemain terompet menginginkan mereka yang bangkit dari kubur tersebut menghampiri mereka yang bertanggung jawab atas kematian mereka dan meminta pertanggungjawaban mereka atas perbuatan yang mereka lakukan terhadap orang-orang tersebut sehingga mereka meninggalkan dunia ini dengan cara yang begitu kejam dan tidak berprikemanusiaan.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari puisi ini adalah, puisi ini merupakan sebuah bukti nyata dari insiden Dili pada tahun 1991 dan juga puisi ini berguna sebagai pengingat akan salah satu sejarah Indonesia yang sangat kelam, dan puisi ini juga memberikan makna bagi rakyat Indonesia untuk cintailah Indonesia dan pertahankan kemerdekaan Indonesia demi menghormati mereka yang memperjuangkan Indonesia sehingga negara ini bisa seperti kondisinya sekarang, yang jauh berbeda ketika masa-masa perjuangan kemerdekaan sedang berlangsung.

Seno Gumira Ajidarma mampu menyampaikan isi dan kritik dari puisi ini secara tersirat tetapi juga jelas akan maknanya, yang membuat puisi ini patut dipertimbangkan sebagai salah satu puisi terbaik mengenai sejarah bangsa Indonesia.