Ringkasan dan Analisis Puisi Dari Bentangan Langit Karya Emha Ainun Nadjib

Tentang Puisi dan Penulis-Budayawan Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab dipanggil Cak Nun, lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, mengaku seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik Kyai Kanjeng, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Beliau telah menghasilkan banyak karya, baik puisi maupun esai. Beberapa antologi puisi yang telah ia terbitkan adalah: “M” Frustasi (1976), Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978), Sajak-Sajak Cinta (1978), Nyanyian Gelandangan (1982), 99 Untuk Tuhanku (1983), Suluk Pesisiran (1989), Lautan Jilbab (1989), Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990), dan lain-lain. Sedangkan buku esai yang telah ia hasilkan adalah: Dari Pojok Sejarah (1985), Sastra Yang Membebaskan (1985), Secangkir Kopi Jon Pakir (1990), Markesot Bertutur (1993), Markesot Bertutur Lagi (1994), Opini Plesetan (1996), Gerakan Punakawan (1994), dan lain-lain. Selain aktif berkarya, Cak Nun juga aktif di bidang Teater dan Kajian Islami.

Dari Bentangan Langit sendiri pernah dimuat di Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO pada tahun 1997.

Ringkasan Puisi Dari Bentangan Langit Karya Emha Ainun Nadjib

Tidak jelas atas alasan apa Cak Nun menulis puisi ini. Akan tetapi, ditilik dari riwayat hidupnya yang lekat dengan kajian-kajian islami, dan juga dari beberapa kata yang mengacu pada Tuhan, puisi ini berhubungan dengan hal-hal agamis, terutamanya agama Islam.

Cukup banyak metafora yang digunakan Cak Nun di dalam puisinya ini yang membuat pembacanya harus berfikir ulang untuk memahami apa maksud si penulis. Metafora-metafora seperti ‘kemarau’ yang menggambarkan cobaan hidup, ‘lautan, hutan, dan tanah’ yang mewakili nikmat dari Tuhan, ‘kemarau itu, datang kepadamu/ Tumbuh perlahan’ yang berarti cobaan dari Tuhan akan datang segera, dan lain-lain.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Doa Karya Amir Hamzah

Secara keseluruhan, apabila dikaitkan dengan aspek agama, puisi ini bercerita tentang peringatan si penulis kepada pembaca bahwa cobaan dari Tuhan akan datang. Cobaan tersebut akan datang perlahan, meluluhlantakkan semesta dan seisinya, dan cobaan ini akan berlangsung lama. Cobaan ini datang dari Tuhan yang tak pernah bersuara langsung di hadapan manusia, seperti saat manusia berbicara dengan manusia lain. Cobaan ini datang dari Tuhan yang Maha Kuasa, yang selalu memperhatikan segala hal yang terjadi di dunia dalam diam.

Analisis Singkat Puisi Dari Bentangan Langit Karya Emha Ainun Nadjib

Dikaitkan dengan latar belakang penulis, Cak Nun, yang rajin melakukan aktivitas-aktivitas yang memadukan dinamika kesenian dengan agama, politik, dan ekonomi, puisi ini dapat dikatakan sebagai suatu puisi yang cukup agamis. Cak Nun berhasil mengemas pesan-pesannya dalam metafora yang sebenarnya cukup umum, akan tetapi tetap membuat pembacanya terhisap ke dalam proses berfikir yang Cak Nun coba tampilkan di dalam puisi ini.

Setelah mempelajari arti metaforis dari baris-baris puisi ini, dapat disimpulkan bahwa puisi mengilustrasikan tentang seseorang yang berusaha untuk mengingatkan sesamanya akan cobaan yang akan datang dari Tuhan, betapa besar, lama, dan menyiksa cobaan itu hingga manusia akan menderita. Cobaan yang diwakilkan oleh ‘kemarau’ yang akan datang ini kelak akan ‘meyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan’ dan ‘menyapu hutan’. Begitu dahsyatnya cobaan ini hingga segala hal yang tadinya dipandang sebelah mata oleh manusia karena keberlimpahannya, kini hilang, musnah, binasa. Kali ini pun, Tuhan tak akan ragu-ragu dalam memberikan cobaan ini kepada manusia.


Harapan penulis bagi pembaca yang membaca puisi ini adalah agar mereka ingat akan ujian yang mungkin akan datang menghampiri mereka, agar manusia menjaga dan mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Sebab Tuhan adalah Yang Maha Kuasa, Tuhan tak akan ragu-ragu dalam memberikan cobaan-Nya.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Malam Karya Amir Hamzah

Puisi ini termasuk puisi kontemporer sebab puisi ini membahas hal berkaitan dengan Ketuhanan yang dampaknya langsung dirasakan dan dimaknai oleh satu orang saja, tidak untuk secara keseluruhan.

 

  • Gaya Bahasa Puisi Dari Bentangan Langit Karya Emha Ainun Nadjib
    • Sudut pandang

Sudut pandang yang digunakan di puisi ini adalah orang kedua. Penulis seakan-akan berbicara kepada pembacanya saat ia menyapa pembaca dengan menggunakan kata ‘kepadamu’.

  • Simbolisme

Banyak simbolisme di dalam puisi ini yang dapat dikaitkan dengan aspek-aspek kehidupan manusia. Beberapa yang paling menonjol adalah simbolisasi yang tergambar di dalam kata-kata yang berkaitan dengan alam, seperti kemarau, lautan, hutan, dan tanah berbongkahan.

Seperti yang kita ketahui, kemarau adalah salah satu musim di daerah tropis, dimana frekuensi hujan berkurang drastis pada saat ini. Beberapa daerah bahkan mungkin saja mengalami kekeringan di musim ini. Oleh karenanya, kata ‘kemarau’ di dalam puisi ini dapat dikatakan sebagai simbol dari cobaan yang datang di hidup manusia, sebab kemarau identik dengan kekeringan, kelangkaan, dan kesulitan-kesulitan lain yang terjadi.

Kata-kata lain seperti lautan, hutan, dan tanah berbongkahan melambangkan segala sumber daya alam, segala harta yang kita miliki. Hal ini dapat direfleksikan dari kegiatan manusia sehari-hari yang selalu membutuhkan air dari laut, hasil-hasil hutan, dan tanah untuk berpijak juga bermukim. Laut, hutan, dan tanah begitu berarti bagi manusia, begitu berlimpah hingga manusia lupa akan betapa berharganya hal-hal itu di kehidupan mereka.

  • Majas

Majas metafora: Banyak sekali metafora yang digunakan di dalam puisi ini. Contohnya kemarau yang mewakilkan cobaan di dalam hidup, kemudian lautan, hutan dan tanah yang mewakilkan segala kenikmatan dunia yang diberikan Tuhan.

Also Read:  Analisis Puisi Percakapan Malam Hujan Karya Sapardi Djoko Damono

Majas personifikasi: Majas personifikasi adalah majas yang megatributkan perilaku manusia pada objek yang bukan manusia. Salah satu contoh majas personifikasi yang ada di puisi ini adalah ‘kemarau itu, datang kepadamu’. Padahal pada kenyataannya kemarau tidak bisa ‘datang’ seperti datangnya manusia ke suatu tempat. Kemarau disini juga digambarkan dapat ‘menyapu’ dan juga ‘mengekal/memegang’ padahal kemarau tak punya tangan sebab kemarau bukan manusia, kemarau –secara harfiah− adalah musim.

Majas pars pro toto: Majas pars pro toto adalah majas yang menggunakan sebagian dari objek/unsur untuk mewakilkan keseluruhan objek tersebut. Majas ini dapat ditemukan pada kata ‘Tangan’ di 2 baris terakhir. Cak Nun sengaja menulis kata ‘Tangan’ dengan huruf kapital untuk menggambarkan bahwa ‘Tangan’ yang dimaksud adalah ‘tangan Tuhan’. ‘Tangan’ yang berusaha menggapai manusia dengan cara-Nya sendiri. Dengan demikian, ‘Tangan’ disini mewakili Tuhan.

  • Latar Belakang

Latar tempat: Latar tempat yang tersirat di dalam puisi ini adalah di alam terbuka. Tampak jelas dari penggunaan kata-kata ‘langit’, ‘lautan’, dan ‘tanah bongkah’ yang begitu terbuka di alam bebas.

Latar suasana: suasana yang tergambar dalam puisi adalah suasana yang cukup mencekam. Terbentuk dari kata ‘semu’ yang mewakilkan hal-hal yang sedih, kemudian muncul kata ‘kemarau’ yang identik dengan kekeringan, cobaan, dan kelangkaan. Lalu memuncak di baris ke-5 dan 6 saat adanya tanda seru (!) yang menekankan kekuatan kemarau yang datang tersebut. Siapapun yang berada di situasi seperti ini tentu akan takut.