Ringkasan dan Analisis Puisi Ibu Karya D. Zawawi Imron

Last updated on August 23rd, 2020 at 08:05 pm

Tentang Puisi dan Penulis: Zawawi Imron lahir di desa Batang-batang, Sumenep, di bagian ujung pulau Madura pada tahun 1945, dan dia tidak mengetahui tanggal dan bulan kelahirannya. Beberapa karya besarnya antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985), Berlayar di Pamor Badik (1994), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang1996), Madura Akulah Darahmu (1999), dan Kujilat Manis Empedu (2003). Beberapa sajaknya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda dan Bulgaria.

Puisi Ibu ini bercerita mengenai seorang anak yang menyatakan cinta dan kasih sayangnya kepada ibunya. Di dalam puisi anak tersebut menyadari betapa dia merindukan Ibunya, betapa besar kasih sayang diberikan Ibunya kepadanya dan keinginan dari anak tersebut yang timbul untuk memberikan bakti yang terbaik bagi Ibunya.

Ringkasan Puisi Ibu Karya D. Zawawi Imron

Puisi tidak memiliki keterangan tempat dan waktu yang jelas di dalam puisi ini, tetapi yang jelas adalah puisi ini menceritakan seseorang yang sedang pergi merantau dan merindukan Ibunya. Orang ini bercerita apabila dia sedang pergi merntau dan datang musim kemarau yang membuat segalanya mengering, seperti sumur-sumur, dedaunan dan ranting-ranting pohon, dia teringat kepada Ibunya yang air matanya tidak pernah berhenti mengalir untuknya.

Dan jika dia sedang merantau, dia akan teringat bagaimana enaknya kopyor susu  yang dibuat oleh Ibunya dan betapa nakalnya dia kepada Ibunya yang menandakan bagaimana rindunya dia kepada Ibunya dan dia juga teringat bagaimana dia belum bisa membalas budi kepada Ibunya yang telah merawatnya sejak kecil sampai dia cukup besar untuk hidup sendiri.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Sajak Putih Karya Chairil Anwar

Dia sangat menghormati Ibunya dengan sepenuh hati, dan dia menyadari bahwa Ibunya yang melahirkannya dan membuatnya dapat berada dimana dia sekarang, dia teringat Ibunya dulu melahirkannya dan membesarkannya dengan kasih sayang yang sangat terbatas untuknya sehingga dia bisa seperti sekarang ini.

Ibu mengajarkannya berbagai hal sejak kecil, mengajarkannya tentang apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, meskipun dia tidak terlalu mengerti akan hal itu tetapi dia hanya mengangguk seakan-akan dia paham apa yang diajarkan oleh Ibunya. Dia memikirkan betapa besar kasih sayang Ibunya yang diberikan kepadanya, yang jika dibandingkan dengan lautan, maka lautan akan terlihat kecil dan tidak berarti dibandingkan dengan kasih sayang Ibu terhadapnya.

Dan dengan kasih sayang Ibunya merawatnya, memandikannya, mengajarinya untuk menjadi dewasa agar dapat bekerja dan mendapatkan hal-hal yang membahagiakannya. Dan jika dia mengikuti ujian, dan ada pertanyaan mengenai siapa pahlawan yang sangat dia kenal, maka pasti dia akan selalu menjawab Ibunya.

Dia mengetahui bahwa dia adalah anak dari Ibunya, dan Ibunya mengajarinya untuk beribadah kepada tuhan yang akan menjadi tempatnya mengadu ketika Ibunya tidak ada dan dia sedang memiliki masalah. Ibunya adalah makhluk terindah dan tersuci yang pernah dia temui yang pernah datang kepadanya dan menyuruhnya untuk membuat hal-hal yang baik dan berguna di dunia ini agar dapat membuat Ibunya bangga melihat anaknya dapat bahagia dan menjadi apa yang dia damba-dambakan.

Analisis Singkat Puisi Ibu Karya D. Zawawi Imron

Puisi ini mempunyai makna mengenai bagaimana Ibu adalah seorang yang sangat berjasa di kehidupan kita dengan segala hal yang diberikan olehnya dan bagaimana seorang anak yang telah hidup berpisah dari Ibunya harus tetap mengingat dan berbakti kepada orang tuanya sebelum Ibunya tidak ada di dunia ini dan dia akan merasa penyesalan.


Zawawi Imron menulis puisi ini dengan membuat puisi ini berkembang dari awalnya yang terlihat bahwa tokoh utama di dalam puisi ini sangat merindukan Ibunya, sampai di akhir-akhir bagaimana anak ini ingin sekali membalas budi dan sangat merindukan Ibunya, dengan segala kenangan masa kecilnya yang dilalui bersama Ibunya.

Also Read:  Analisis Puisi Pada Suatu Hari Nanti Karya Sapardi Djoko Damono

Zawawi ingin melampiaskan dan memberitahu kepada orang-orang betapa berjasanya Ibu kita dalam kehidupan kita karena Ibu telah melahirkan kita, mengajarkan kita banyak hal, melindungi kita dari bahaya, mengurus kita dengan sabar dan dengan kasih sayang menasehati kita agar kita menjadi orang yang sukses di masa depan, dan hanya hal itulah yang diinginkan oleh seorang Ibu: untuk melihat anaknya tumbuh dewasa menjadi orang yang sukses, bahagia, dan berguna bagi dirinya dan orang lain dan tidak melupakan siapa yang membuatnya berada di posisi tersebut, hanya dengan mengunjunginya.

Zawawi menulis puisi ini dengan gaya penulisan yang penuh dengan kata kiasan dan juga dengan baris yang banyak, membuat puisi ini agak susah untuk dipahami dan terkadang satu baris tidak memiliki artinya sendiri, dan harus digabung dengan baris sebelum atau sesudahnya agar terliha maksud sebenarnya dari baris tersebut.

Gaya Bahasa Puisi Ibu Karya D. Zawawi Imron

  • Sudut Pandang

Sudut pandang yang digunakan di puisi ini adalah sudut pandang dari orang pertama yang mana ditunjukkan dengan penggunaan kata aku, yang merujuk kepada sang anak yang menarasikan puisi ini untuk mengungkapkan bagaimana besarnya rasa cintanya kepada Ibunya yang telah merawatnya sejak masih kecil.

  • Rima

Baris pertama mutlak hanya menggunakan vocal U sebagai tengah dan rima akhir. Pada baris kedua terjadi bunyi  /r/ dan bunyi /ng/ sebagai rima tengah dan rima akhir yang disebut bunyi asonasi. Bait kedua ini adanya persamaan dominasi persamaan bunyi vocal /u/ sebagai rima tengah dan rima akhir yang disebut bunyi asonasi, dan persamaan bunyi konsonan /n/ pada baris ke tiga dan empat sehingga disebut rima akhir bersifat aliterasi.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Karangan Bunga Karya Taufiq Ismail

Bait ketiga terdiri dari lima baris yang menghadirkan kombinasi bunyi-bunyi vocal asonasi sebagai rima tengah dan rima akhir yang didominasi oleh vocal /u/ bentuk rima akhir berbentuk aliterasi dengan konsonan /k/ dan bunyi sangau /ng/. suasana yang ada timbul bunyi efoni. Gambaran perasaan yang teramat indah.Pada bait ke empat terdiri dari 9 baris, setiap akhir baris tampak rima asonansi dengan bunyi vocal /u/a/i/ lalu persamaan bunyi konsonan /n/, serta bunyi asfiran /h/ .

Pada bait kelima ini dominan akhir barisnya didominasi oleh konsonan /l/n/ , /n/ sebagai rima tengah dan /l/ sebagai rima akhir. Mengungkapkan kasih dan rasa syukur kepada yang kuasa. Pada bait terakhir atau bait keenam ini hanya ada bunyi vocal /u/ yang sangat mendominasi pada bait akhir ini. Pada bait ini mengisyaratkan kepuasan, kebanggaan, sanjungan kebahagiaan.

  • Majas Metafora

Metafora di dalam puisi Ibu terdapat di kata bidadari yang berselendang bidadari yang mempunyai metafor yakni seorang anak yang mengibaraktan ibunya seperti wanita cantik yang penuh warna pelangi dalam hidupnya. Gua pertapaanku juga merupakan metafor yang menyiratkan makna tempat tokoh aku di dalam puisi ini sedang berada di dalam kandungan dan akan terlahir ke dunia nyata.

 

Keywords –  Analisis Puisi Ibu Karya D. Zawawi Imron (1.0)