Ringkasan Puisi Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono

Tentang Puisi- Puisi ini ditulis pada tahun 1978 dan puisi ini dimasukkan ke dalam antologi puisi Sapardi yang berjudul Perahu Kertas yag diterbikan oleh Balai Pustaka pada tahun 1983.

Tentang Penulis- Sapardi dilahirkan di desa Baturono, Solo, pada tanggal 20 Maret 1940, yang berdasarkan kalender Jawa merupakan bulan Sapar, yang mungkin menjelaskan darimana nama Sapardi itu berasal. Sapardi tumbuh besar ditengah-tengah berkecamuknya perang kemerdekaan. Pemandangan seperti bom yang dijatuhkan ke rumah-rumah besar merupakan hal yang biasa bagi Sapardi kecil.

Sejak dari tahun 1943, ketika keluarga Sapardi kecil memutuskan untuk pindah dari rumah kakeknya, Sapardi hidup berpindah-pindah karena mereka mencari tempat tinggal yang tidak terlalu banyak hiruk pikuknya, dan akhirnya pada tahun 1957, keluarga Sapardi kecil menetap di Komplang, sebuah desa kecil tetapi memiliki suasana yang tenang dan tanah yang luas.

Desa Komplang merupakan desa yang belum memiliki listrik dan desa itu pun adalah desa yang sangat sepi karena belum banyak ditempati oleh orang-orang. Oleh karena itu, karena banyaknya waktu luang dan tidak ada banyak kegiatan yang bisa dia lakukan dan dia dapat menikmati kesendiriannya, Sapardi mulai mengembangkan bakat menulisnya dan karya pertamanya yang berupa sajak dimuat di majalah kebudayaan di Semarang sebulan setelah dia belajar menulis.

Dan semenjak saat itu, bakat menulis Sapardi terus berkembang seiring umurnya bertambah dan dia telah menjadi salah satu sastrawan yang terkenal dan hebat di Indonesia dengan-dengan karya-karyanya yang indah dan menawan.

Karya-karya sastra yang telah dia hasilkan antara lain: Kumpulan Puisi/Prosa “Duka-Mu Abadi”, Bandung (1969); “Lelaki Tua dan Laut” (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway); “Mata Pisau” (1974); “Sepilihan Sajak George Seferis” (1975; terjemahan karya George Seferis); “Puisi Klasik Cina” (1976; terjemahan); “Lirik Klasik Parsi” (1977; terjemahan); “Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak” (1982, Pustaka Jaya); “Perahu Kertas” (1983); “Sihir Hujan” (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia); “Water Color Poems” (1986; translated by J.H. McGlynn); “Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono” (1988; translated by J.H. McGlynn); “Afrika yang Resah (1988; terjemahan); “Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia”; (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks); “Hujan Bulan Juni” (1994); “Black Magic Rain” (translated by Harry G Aveling); “Arloji” (1998); “Ayat-ayat Api” (2000); “Pengarang Telah Mati” (2001; kumpulan cerpen); “Mata Jendela” (2002); “Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?” (2002); “Membunuh Orang Gila” (2003; kumpulan cerpen); “Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an – 1910an)” (2005; salah seorang penyusun); “Mantra Orang Jawa” (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia); “Kolam” (2009; kumpulan puisi).

Also Read:  Ringkasan Puisi Percakapan Malam Hujan Karya Sapardi Djoko Damono

Ringkasan Puisi Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono

Puisi ini tidak memiliki latar belakang yang menjelaskan lokasi atau situasi apapun. Puisi ini bercerita mengenai pemahaman tokoh utama mengenai waktu dan manusia. Dia berpikir bahwa waktu adalah suatu yang tidak nyata, fana, dan suatu saat akan berakhir, sedangkan manusia adalah makhluk yang abadi, jelas adanya, dan tidak terkekang oleh apapun. Dia memiliki pemahaman bahwa waktu suatu saat dapat menghilang, tetapi tidak untuk dirinya dan untuk manusia-manusia lain.


Dia berpikiran bahwa dalam semasa hidup manusia, semua orang melakukan apapun dalam hidupnya dengan kepercayaan bahwa manusia itu abadi tidak akan pernah terkalahkan oleh waktu, dan manusia melakukan apapun di dalam hidupnya untuk menghasilkan dan mendapatkan hal-hal yang dia senangi. Dia berpikir bahwa tujuan manusia menjalani setiap detik-detik hidupnya adalah agar manusia mendapatkan apa yang mereka inginkan apa yang membawa perasaan senang dan bahagia untuk mereka.

Manusia menjalani hidupnya untuk menghasilkan hal-hal yang dapat dibanggakan, menarik untuk orang lain dan pada ujungnya memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Ketika mereka telah mendapatkan kebahagiaan karena telah melakukan suatu hal, maka manusia akan mencari hal-hal lain yang dapat memberikannya kebahagiaan, dan siklus ini terjadi terus-menerus tanpa henti, karena dalam pikirannya manusia adalah makhluk yang abadi.

Tetapi pada suatu titik, ketika dia merasakan bahwa kebahagiaan yang dia dapatkan dengan bekerja keras dan bersungguh-sungguh menjadi tidak berarti. Dia menyadari hal itu ketika dia merasa bahwa umurnya semakin bertambah. Dia mulai merasa apapun yang sudah dilakukan di masa lalunya yang membawakan kebahagiaan untuknya, merupakan hal-hal yang tidak abadi, dan tidak dapat bertahan lama. Dia mulai meragukan apakah yang dia lakukan semasa hidupnya untuk membuat dirinya bahagia itu adalah hal yang benar-benar harus dia lakukan sampai akhir hayatnya, dan mulailah timbul pertanyaan di dalam dirinya: apakah benar tujuan hidupnya adalah untuk mencari kebahagiaan? Apakah benar manusia itu abadi? Kalau memang abadi, mengapa dia merasa dia bertambah tua, dan merasa apa yang sudah dia hasilkan di dalam hidupnya tidak berarti apa-apa?

Also Read:  Analisis Puisi Hari Ini Seperti Juga Kemarin Karya Seno Gumira Ajidarma

Dia terus meragukan apakah yang dilakukan selama ini adalah hal yang seharusnya dia lakukan, dia kehilangan untuk mengejar kebahagiaan yang dulu selalu dikejar-kejarnya dengan sekuat tenaga, karena dia tahu, pada akhirnya rasa bahagia itu akan hilang, dan akan digantikan dengan hasrat untuk mengejar kebahagiaan yang baru lagi. Dia merasa, entah kenapa dia akan semakin tua, dan ketika dia sudah cukup tua, dimana tubuhnya dan jiwanya tidak bisa mengejar kebahagiaan ketika dia dulu masih muda, dia akan mempertanyakan apakah benar manusia adalah makhluk yang abadi? Apa benar waktu adalah hal yang fana, yang dapat menghilang? Lalu kenapa dia menjadi semakin tua dan akhirnya akan meninggalkan dunia ini, padahal manusia adalah makhluk yang abadi? Hidupnya selama ini untuk apa?

Lalu, ditengah-tengah renungannya, datanglah seseorang yang dia kenal dan orang tersebut berkata kepadanya, mengingatkan kembali bahwa yang fana itu adalah waktu. Manusia adalah makhluk yang kekal, tidak terkalahkan dan dapat melakukan apapun yang mereka inginkan untuk meraih kebahagiaan yang memang merupakan tujuan dari kehidupan manusia, persis seperti yang dia pikirkan di awal-awal. Dia mulai meragukan pertanyaannya apakah manusia adalah makhluk yang fana, dan waktu adalah yang kekal. Kalau memang waktu adalah hal yang kekal dan dia adalah makhluk yang fana, lantas apa tujuan hidupnya selama ini?

Dan pada akhirnya, dia menyerah untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul di dalam hidupnya, dan memutuskan untuk mempercayai pemahaman yang telah dia percayai dari dulu: bahwa manusia adalah makhluk yang kekal, dan waktu adalah hal yang dapat menghilang atau habis.