Ringkasan dan Analisis Puisi Prolog Beringin Tua Karya Bunga Hening Maulidina

Tentang Puisi dan Penulis: Bunga Hening Mauilidina adalah salah seorang dari penulis muda yang banyak menulis puisi untuk diterbitkan di berbagai laman-laman yang berhubungan dengan karya sastra di internet. Bunga Hening Maulidina menulis puisi-puisi yang memiliki jenis puisi kontemporer dan modern, tetapi terkadang ditulis dengan gaya penulisan klasik seperti penggunaan kata akhir di setiap barisnya yang memiliki rima. Bunga Hening Maulidina memiliki potensi untuk menjadi seorang sastrawan yang hebat di masa depan.

Puisi ini merupakan puisi yang terdapat sebagai puisi bonus atau tambahan di sebuah antologi puisi flash fiction yang berjudul “Warna Warni Kehidupan” yang diterbitkan oleh sebuah penerbit lokal di Sidoarjo yang bernama penerbit Hasamah. Buku ini terdiri dari 28 flash fiction dan 10 puisi tambahan yang menceritakan tentang keluarga, persahabatan, cinta, dan segala fenomena unik yang terjadi di masyarakat dan dunia.

Ringkasan Puisi Prolog Beringin Tua Karya Bunga Hening Maulidina

Puisi ini berlatar belakang di sebuah tempat dimana hujan sedang turun dan ada kabut tipis di tempat tersebut. Di tempat tersebut terdapat pohon beringin tua dan seorang gadis yang sedang menangis yang disebabkan oleh suatu hal dan pohon beringin tua tersebut yang berada di dekat gadis tersebut merasa iba dan kasihan kepadanya.

Pohon beringin tersebut mengerti apa yang sedang dirasakan oleh gadis manis yang sedang patah hati tersebut. Pohon tersebut merasa iba melihat gadis manis tersebut yang sedang menangis karena sedang patah hati, didukung oleh suasana yang sedang hujan dan berkabut yang membuat gadis tersebut terlihat sangat rapuh dan sangat tersakiti hatinya, yang membuat pohon beringin tua mengerti apa yang sedang dirasakan oleh gadis manis tersebut.

Pohon beringin tua itu memohon kepada tuhan untuk membuatnya dapat mengusap air mata gadis manis tersebut, menenangkannya, memeluknya, dan membuat gadis manis tersebut sadar bahwa pohon beringin tua tersebut mengerti mengenai apa yang dia rasakan, dan pohon tersebut memiliki sebuah puisi yang ingin dia bacakan untuk gadis manis tersebut agar dia tidak menangis dan patah hati yang dia rasakan cepat hilang.

Also Read:  Analisis Puisi Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono

Pohon tersebut ingin membacakan sebuah puisi yang hanya terdiri dari dua baris agar gadis tersebut tidak menangis lagi, dan dapat mengobati hati perempuan tersebut sedikit. Pohon beringin tua tersebut ingin memberitahu gadis manis itu bahwa ketika merasakan sakit hati, yang pasti menyakitkan hatinya sampai membuatnya menangis di dekat pohon beringin tua disaat hujan dan berkabut, bahwa dia sedang mempelajari arti cinta secara haqiqi dan jelas.

Pohon tersebut ingin memberitahunya bahwa patah hati adalah hal yang diperlukan baginya untuk menyadari arti cinta secara sepenuhnya dan bagaimana cinta seharusnya benar-benar ada di kehidupan kita. Pohon tersebut ingin memberitahu kepada gadis tersebut, bahwa setelah ini dia akan mempelajari dan mengerti cinta dari dasarnya, bahwa cinta itu adalah sesuatu yang ada di dunia ini yang tidak mengenal batasan, seperti gadis tersebut yang pasti sangat mencintai orang yang tidak mencintainya seperti yang dia inginkan, sehingga ketika orang tersebut mengatakan kepadanya bahwa dia tidak mencintai gadis tersebut seperti dirinya, gadis manis tersebut merasa hatinya sakit dan kenyataan bahwa orang tersebut tidak sebegitu mencintai dirinya sangat menyakitkan hatinya.

Setelah dia berhasil bangkit dan mengobati hatinya, dia akan berhati-hati untuk jatuh cinta. Dia akan mengerti bahwa cinta harus dibalas dengan cinta. Dia akan berhati-hati untuk menaruh hatinya secara sepenuhnya kepada seseorang, dia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa orang tersebut adalah orang yang tepat bagi dirinya untuk menaruh hatinya secara sepenuhnya, dan dia ingin memastikan bahwa orang tersebut pasti akan membalas cintanya.

Tetapi sayang sekali, karena pohon beringin tua tersebut hanyalah sebuah pohon yang sunyi, yang tidak bisa berkata-kata, ataupun melakukan sesuatu yang dapat membuat gadis tersebut ceria dan bahagia kembali dengan puisinya. Dia menyadari bahwa dia hanya akan ada disana, berada di samping gadis manis tersebut, melihatnya menangis karena hatinya sedang patah, tanpa bisa melakukan apapun untuk menenangkan perempuan tersebut.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Dari Catatan Seorang Demonstran Karya Taufiq Ismail

Pohon tersebut menyadari bahwa dia adalah saksi bagi manusia-manusia yang sedang bersedih atau sedang putus asa karena mereka sedang terluka hatinya karena hancurnya cita-cita mereka, putusnya cinta yang mereka banggakan, dan pupusnya mimpi-mimpi mereka yang berada di dalam hidup mereka. Mereka pasti akan pergi ke tempat sepi, seperti tempat yang ditempati pohon beringin tua tersebut untuk meluapkan isi hati mereka, dan pohon beringin tua tersebut, yang tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat mereka yang sedang bersedih dan putus asa, hanya berharap dan berdoa kepada Tuhan agar dia diberikan kemampuan untuk berbicara dan menenangkan mereka yang sedang bersedih dan putus asa.

Analisis Singkat Puisi Prolog Beringin Tua Karya Bunga Hening Maulidina

Puisi ini merupakan salah satu puisi modern yang memberikan makna mengenai bagaimana seharusnya manusia memberikan perhatian dan membantu mereka yang sedang bersedih dan sedang patah hati. Bunga membuat puisi ini untuk memberitahu kepada manusia bahwa ketika seseorang sedang dilanda kesedihan, dia akan merasa hatinya sakit dan dia akan menangis serta merasa bahwa tidak ada orang yang akan mau menemaninya dan menolongnya mengobati sakit hatinya.

Bunga menunjukkan hal ini dengan cara membuat sebuah pohon beringin tua yang dapat mendengar dan melihat gadis manis tersebut menangis dan ingin menolongnya, tetapi dia tidak bisa berbicara ataupun bergerak untuk membuat gadis manis itu mengerti bahwa dia mengerti apa yang gadis manis itu rasakan dan dia dapat mengobati hati gadis itu dengan membaca puisi.

Bunga bermaksud membuat manusia sadar bagaimana perlunya seseorang yang sedang patah hati akan orang lain, dengan melihat pohon beringin tua di dalam puisi ini yang ingin sekali menolong gadis tersebut dan orang-orang lain yang menangis dan sakit hatinya karena kehilangan cita-cita, patah hati, dan kehancuran mimpinya, tetapi pohon tersebut tidak bisa apa-apa karena dia hanya bisa mendengarkan dan melihat tanpa bisa memberikan respon apapun bagi orang-orang yang sedang bersedih tersebut.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Mencari Bapak Karya W.S. Rendra

Bunga ingin memberikan anjuran bagi para manusia yang bisa merespon, merasakan dan berbicara, tidak seperti pohon beringin tua tersebut untuk membantu mereka yang sedang berada di dalam kesedihan untuk keluar dari jurang kesedihan tersebut dengan mengobati hati mereka agar mereka dapat semangat dan dapat belajar dari kesalahan.

Gaya Bahasa Puisi Prolog Beringin Tua Karya Bunga Hening Maulidina

Sudut Pandang:

Sudut pandang yang digunakan didalam puisi ini adalah sudut pandang orang pertama, yang dalam puisi ini adalah sudut pandang dari pohon beringin tua yang melihat gadis manis yang sedang menangis tersebut. Hal ini ditunjukkan di baris kedua dari bait terakhir “Aku hanyalah beringin sunyi” yang menegaskan bahwa semua yang dijelaskan di baris-baris sebelumnya dan juga baris terakhir adalah mengenai apa yang di lihat dan dia rasakan.

Rima:

Puisi ini menggunakan jenis rima yang sama untuk semua barisnya. Setiap kata di akhir setiap baris menggunakan huruf vokal “i.” tetapi untuk baris pertama sampai keempat, penggunaan huruf vokal “i” tersebut ditambah dengan huruf konsonan setelahnya, sehingga baris pertama dan keempat diakhiri dengan kata yang berakhiran dengan rima “-is.”

Majas Personifikasi:

Di dalam puisi ini terdapat dua bagian yang menggunakan personifikasi, yaitu bagaimana mega/awan yang berubah menjadi gerimis di baris kedua melengkapi suara tangis dari gadis manis yang disebut dengan bahasa “dibelai” yang mana tidak mungkin gerimis dapat membelai suara tangisan dari seseorang.

Personifikasi yang satu lagi adalah bagaimana pohon beringin tua dapat berpikir, berdoa, melihat, membaca puisi di dalam hati, memiliki perasaan layaknya seorang manusia. Dalam dunia sebenarnya, tidak ada ada pohon yang dapat berpikir, berdoa , melihat, membaca puisi di dalam hati, dan memiliki perasaan.