Ringkasan Puisi Hari Ini Seperti Juga Kemarin Karya Seno Gumira Ajidarma

  • Tentang Puisi

Puisi ini dituis oleh Seno Gumira Ajidaram di Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia pada tahun 1976.

  • Tentang Penulis

Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston, 19 Juni 1958 sebagai anak dari pasangan Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo yang seorang guru besar Fakultas MIPA di Universitas Gadjah Mada dengan Poestika Kusuma Sujana, seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Berbeda dengan ayahnya, Seno tidak menyukai pelajaran-pelajaran yang termasuk ilm
u pasti yang menggunakan angka-angka seperti matematika yang penuh dengan ilmu ukur dan hitung menghitung.

Perkenalan Seno dengan karya sastra dimulainya ketika ia bergabung dengan teater Alam yang dipimpin oleh Azwar A.N. Karya puisi pertamanya yang dimuat dan diterbitkan adalah sajak yang berjudul “Puisi Lugu”. Di awal karirnya sebagai penyair, Seno seringkali di pandang sebelah mata oleh orang-orang. Mereka meremehkan Seno yang menjadi penyair kontemporer, tetapi hal tersebut tidak membuatnya patah semangat dan hatinya untuk menulis. Semakin banyak ocehan dan cibiran yang datang, hal itu malah menjadi lecutan baginya untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Setelah Seno sukses memulai debutnya sebagai penyair, Seno mulai merambah ke jenis-jenis karya sastra yang lain seperti esai, novel dan karya non-fiksi pun telah dihasilkannya. Sekarang, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta, beliau juga mengisi kesehariannya dengan membaca, menulis, memotret, dan jalan-jalan. Beliau juga mulai menuangkan kreativitasnya dalam bentuk komik.

Karya-karya sastra yang beliau hasilkan: Saksi Mata, 1987; Pelajaran Mengarang, 1993; Manusia Kamar, 1988; Penembak Misterius, 1993; Saksi Mata, 1994; Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, 1995; Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, 1996; Iblis Tidak Pernah Mati, 1999.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Dari Catatan Seorang Demonstran Karya Taufiq Ismail

Pendidikan formal yang dilalui oleh Seno: Sarjana, Fakultas Film & Televisi, Institut Kesenian Jakarta, 1994; Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia, 2000; Doktor Ilmu Sastra, Universitas Indonesia, 2005.

Penghargaan yang diterima oleh Seno: Radio Arif Rahman Hakim (ARH) untuk cerpennya Kejadian, 1977; Majalah Zaman untuk cerpennya Dunia Gorda dan Cermin, 1980; Harian Kompas untuk cerpennya Midnight Express, 1990; Harian Sinar Harapan untuk cerpennya Segitiga Emas, 1991; Harian Kompas untuk Cerpen Pelajaran Mengarang, 1993; Penulisan Karya Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk kumpulan cerpen Saksi Mata, 1995; East Asia (S.E.A.) Write Award untuk kumpulan cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, 1997; Dinny O’Hearn Prize for Literary untuk Cerpen Saksi Mata, 1997; Khatulistiwa Literary Award 2004 untuk novel Negeri Senja, 2004; Khatulistiwa Literary Award 2005 untuk Kitab Omong Kosong, 2005.


Puisi ini tidak menunjukkan kata-kata atau deskripsi mengenai dimana latar belakang puisi ini, tetapi puisi ini menunjukkan adanya informasi mengenai waktu, yaitu di baris terakhir. Adanya kata “pagi” yang menunjukkan bahwa waktu yang digunakan di dalam puisi ini adalah di pagi hari.

Puisi ini menceritakan bagaimana hari-hari yang dilalui oleh seseorang, yang pikirannya tertuang di dalam puisi ini tidak berbeda dengan hari kemarin. Dia merasa bahwa hari-hari di hidupnya begitu datar, selalu sama tanpa ada suatu hal pun yang dapat menarik perhatiannya atau membuatnya semangat dalam menjalani hari-harinya.

Perasaan dimana dia selalu mengalami hari-hari yang sama di sepanjang hidupnya, sudah dirasakan dalam waktu yang sangat lama, sehingga dia tidak lagi bisa membedakan dan membandingkan lagi apakah yang dialaminya di dalam hari-harinya ini adalah memang nasibnya, ataukah hanya sekedar sepi belaka, yang suatu saat dapat menghilang dan digantikan oleh ramai.
Dia merasa bahwa hidupnya sehari-hari hanya dijalani oleh dirinya sendiri. Walaupun memang ada orang lain disekitarnya, tapi dia tidak merasa bahwa hidupnya penuh dengan orang-orang yang benar-benar peduli kepadanya dan tidak ada yang benar-benar ingin menemaninya sehingga dia hanya merasakan betapa sepi hari-harinya.

Also Read:  Ringkasan Puisi Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono

Semakin banyak hari-hari yang dilalui dengan sepi, yang di dalam pikirannya hanyalah sekedar sebuah jangka waktu di dalam hidupnya, mulai merubah persepsinya terhadap hari-harinya yang dilalui dengan sepi. Dia mulai menganggap bahwa memang nasibnya untuk melewati hari-harinya dengan sepi tanpa ada hal menarik atau orang lain yang berada di hidupnya.

Tetapi pada suatu saat,  ketika dia sudah berada di puncak perasaan sepi, dimana nasib dan sepi tidak dapat dibandingkan dan dibedakan lagi, dia menemukan sebuah hal yang menarik di dalam hidupnya yang dia yakin dapat merubah hidupnya, sehingga dia dapat keluar dari genggaman sepi, dan menjalani hidupnya dengan suasana yang baru dengan penuh semangat dan kebahagiaan.

Sayangnya, ketika dia mendekati hal tersebut, melakukannya di suatu hari dengan harapan hal itu dapat bertahan lama dan merubah hidupnya menjadi lebih berwarna dan terbebas dari kesepian yang telah membuatnya hampir meyakini bahwa sudah nasibnya untuk melewati hari-hari dalam hidupnya, ternyata tidak membuat hari-harinya sudah berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia tetapi merasakan sepi di hari-harinya, dia selalu merasa sendiri, sama seperti hari-hari yang telah dia jalani sebelumnya.

Lalu, dia tetap menjalani hari-harinya yang sepi tidak berbeda jauh dengan apa yang dia lakukan sebelumnya, dengan suasana sepi, hanya sendirian, tanpa ada sesuatu yang menarik. Membuatnya kembali kepada keyakinan bahwa sepi dan nasibnya telah menjadi satu untuknya dan itu adalah hal yang tidak bisa dia lepaskan dari hidupnya, karena memang sudah menjadi nasib baginya untuk selalu menjalani hari-harinya dengan sepi.

Tetapi, ada satu hal yang membuatnya semangat menjalani hari-harinya yang sepi: yaitu matahari pagi, yang menandakan dimulainya hari baru, dan hanya mataharilah yang menunjukkan perubahan di dalam hidupnya dengan terbit-tenggelam di setiap harinya, yang setidaknya memberikan dia alasan untuk tetap menjalani kehidupannya dan juga memberikan harapan bahwa adanya kemungkinan harinya akan berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Also Read:  Analisis Puisi Percakapan Malam Hujan Karya Sapardi Djoko Damono