Analisis Puisi Aku Berada Kembali Karya Chairil Anwar

  • Ana
    lisis Puisi Aku Berada Kembali Karya Chairil Anwar

Puisi ini menjelaskan bagaimana modernisasi dan perkembangan teknologi  berdampak kepada kehidupan manusia dipinggir pantai. Seiring dengan perkembangan teknologi, khususnya kendaraan dengan menggunakan energi berupa minyak, manusia membuat kilang-kilang minyak di pantai untuk mendapatkan minyak untuk menghidupkan kendaraan-kendaraan yang digunakan di perkotaan. Dan juga, kehadiran kapal-kapal pengeruk ikan secara masal yang mengambil sumber mata pencaharian nelayan-nelayan yang berada di pinggir pantai- −mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan ikan dari lautan karena mereka kalah dengan kapal-kapal besar tersebut. Kombinasi dari kedua hal ini, membuat orang-orang yang tinggal di pesisir pantai berpindah ke kota karena mereka ingin mendapatkan uang untuk melanjutkan kehidupan mereka, meninggalkan keluarga mereka dan orang-orang yang sakit hati dan berharap mereka tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka hanya dengan menjadi nelayan.

Dari sudut pandang literatur, puisi ini dapat dianalisis melalui sudut pandang dari kritik lingkungan dan juga post-kolonialisme. Dampak dari komersialisasi dan modernisasi dibidang pengolahan hasil lautan berdampak kepada para nelayan dalam kesejahteraan hidup mereka, mereka sulit dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka dan mendesak mereka untuk meninggalkan keluarga mereka untuk beradu nasib di perkotaan demi mendapatkan penghasilan. Dampak dari post-kolonialisme terlihat jelas dengan adanya kapal-kapal dan “mega” yang berarti adalah kilang-kilang minyak yang merupakan bentuk dari monopoli hasil lautan yang dilakukan oleh para konglomerat di perkotaan −seperti yang dilakukan para penjajah dan pihak-pihak asing di Indonesia yang menjajah dan merebut sumber daya alam Indonesia.

Ketika puisi ini ditulis oleh Chairil Anwar adalah 4 tahun setelah Indonesia merdeka dari pendudukan Jepan, dan Indonesia sedang gencar-gencarnya membangun sektor-sektor pendukung kelangsungan Negara −termasuk pengolahan hasil laut, tetapi lupa akan kesejahteraan rakyat-rakyat kecilnya, sehingga Chairil Anwar tersentuh hatinya melihat keadaan Indonesia yang sudah mendapatkan kemederkaan, tetapi tidak untuk semua orang; melainkan hanya untuk mereka yang memiliki potensi dan sumber daya untuk mendapatkan kemerdekaan. Indonesia tidak sepenuhnya terbebas dari cengkraman penjajah; sisa-sisa penjajahan masih terlihat dari pola-pola pikir dan cara-cara dalam menjalankan negara dan menjalankan bisnis, seperti monopoli pengolahan hasil laut.

Also Read:  Analisis Puisi Hari Ini Seperti Juga Kemarin Karya Seno Gumira Ajidarma

Ide utama dari puisi ini adalah menggambarkan bagaimana modernisasi dan perkembangan teknologi berdampak kepada rakyat Indonesia khususnya untuk warga-warga yang tinggal di pesisir pantai dan bermata pencaharian sebagai nelayan, dan juga sebagai kritik kepada pemerintah bahwa kemerdekaan yang dimiliki Indonesia tidaklah berlaku untuk semua rakyat, tetapi hanya untuk mereka yang memang mempunyai kemampuan dan potensi untuk mendapatkan kemerdekaan bagi mereka; para konglomerat dan orang-orang yang tinggal di kota-kota besar, para pengusaha. Chairil Anwar ingin memberikan pengertian bahwa pemerintah seharusnya tidak hanya memperhatikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia yang memang sudah mampu merdeka, tetapi mereka juga harus memperhatikan bagi rakyat Indonesia yang kehidupannya terancam oleh kelakuan dari para pengusaha besar dan konglomerat.

Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang dari orang pertama, karena tokoh utama, yang menjadi subjek yang menyaksikan hal-hal tersebut menyebut dirinya Aku, yang menunjukkan bahwa semua yang terjadi di dalam puisi tersebut ialah yang mengalaminya, menyaksikannya, dan merupakan perumpamaan dari kebangkitannya akan keterpurukan.


  • Simbolisme

Chairil Anwar menggunakan burung-burung, kapal-kapal, perubahan warna air laut, rasa air laut, matahari dan guruh untuk menunjukkan bahwa keadaan sekelilingnya −yang diumpamakan sebagai pantai− telah berubah dan berbeda dari sebelumnya. Kelok-kelok jalan yang menggambarkan perjalanan hidupnya setelah bangkit dari keterpurukan. Guruh sebagai simbol dari masalah yang membuat tokoh tersebut di masa lalu, dan masalah tersebut selalu membayang-bayangi hidupnya dan masa depannya di setiap waktu.

  • Penggambaran

Puisi ini, dengan menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan pantai sebagai simbol dari perubahan-perubahan yang tokoh tersebut, membuat penggambaran akan pemandangan yang dialami oleh tokoh utama tersebut, seperti melihat elang-elang, kapal-kapal, perubahan warna air laut, merasakan air laut, melihat matahari, mendengar guruh secara jelas dan lebih dari itu membuat pembaca dapat merasakan bagaimana rasanya berada dipinggir pantai dan melihat pemandangan seperti itu, yang tentunya sangat berbeda dengan pemandangan kehidupan sehari-hari yang penuh dengan hiruk pikuk kehidupan yang serba cepat dan tidak ada waktu untuk bersantai.

  • Jenis puisi
Also Read:  Analisis Puisi Yang Fana Adalah Waktu Karya Sapardi Djoko Damono

Puisi ini adalah puisi bebas yang tidak menggunakan rima yang saling mengikat satu sama lainnya, baik dari setiap baris maupun untuk setiap baitnya. Puisi ini memiliki bait yang berpola 4-2-4-4 yang tidak seperti puisi pada umumnya. Puisi dengan pola seperti ini biasa disebut dengan Puisi Baru.

  • Tema

Tema dari puisi ini adalah perubahan.  Perubahan yang diangkat disini adalah bagaimana kehidupan rakyat di pesisir pantai berubah karena adanya modernisasi dan perkembangan teknologi, yang membuat kehidupan rakyat di pesisir pantai yang kebanyakan bekerja sebagai nelayan berubah menjadi lebih sengsara, sampai-sampai mereka harus meninggalkan keluarga mereka untuk bekerja di kota. Tema kedua yang diangkat dalam puisi ini adalah harapan. Rakyat yang telah terancam hidupnya karena kesejahteraan mereka direbut, berharap bahwa pemerintah dapat memberikan keadilan bagi mereka dengan mengembalikan hidup mereka seperti dahulu, dimana mereka dapat hidup bahagia di pinggir pantai, tanpa ada yang pergi ke kota untuk mencari rejeki meninggalkan keluarga mereka tanpa kepastian apakah mereka yang pergi meninggalkan dapat memberikan penghasilan yang cukup dan apakah mereka dapat mengembalikan hidup mereka seperti dahulu kala.

 

  • Tone

Suasana yang ditampilkan di puisi ini adalah suasana yang kelam, dingin, dan senyap. Chairil Anwar ingin menunjukkan bagaimana kondisi rakyat yang terkena dampak modernisasi dan perkembangan teknologi dengan menunjukkan suasana sehari-hari yang dirasakan ketika berada di tempat tersebut; yaitu suasana yang kelam, karena tidak ada banyak orang  yang tinggal disana dan semua orang sibuk memikirkan dirinya satu sama lain, dan menghabiskan waktu tenggelam dalam pikirannya atau mencoba melakukan sesuatu yang dapat memperpanjang hidupnya, suasana dingin, dari ketidaksukaan mereka dan keputusasaan mereka terhadap pemerintah yang seolah-olah mentelantarkan mereka dan lebih berpihak kepada pengusaha-pengusaha besar dan para konglomerat, dan yang ketiga adalah suasana sepi, karena sedikitnya warga yang berada diluar rumah dan melakukan aktivitas apapun itu, dan juga ditambah dengan banyaknya orang-orang yang mengadu nasib ke kota demi mendapatkan penghasilan untuk menghidupkan keluarganya di pemukiman tersebut.

  • Kesimpulan
Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Doa Karya Amir Hamzah

Puisi ini adalah puisi yang sangat bagus, karena Chairil Anwar berhasil menggabarkan keadaan rakyat pesisir pantai yang terkena dampak modernisasi dan perkembangan teknologi secara jelas tetapi tetap dengan cara klasik puisi dalam menyampaikan makna secara tersirat, diluar fakta bahwa puisi ini adalah jenis puisi baru yang seringkali menyampaikan makna secara tersurat, gamblang dan jelas dengan menggunakan diksi-diksi yang secara umum merupakan diksi-diksi yang berhubungan kehidupan pesisir pantai, tetapi tidak melupakan nilai-nilai estetika yang terkandung dengan cara penyampainnya yang tersirat, tetapi dengan makna yang sangat dalam dan sangatlah luas.