Ringkasan dan Analisis Puisi Karangan Bunga Karya Taufiq Ismail

Last updated on August 23rd, 2020 at 08:06 pm

Tentang Puisi dan Penulis: Taufiq Ismail adalah seorang penyair terkemuka Indonesia yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada tanggal 25 Juni 1935. Beliau adalah pendiri majalah sastra Horison pada tahun 1966 dan juga mendirikan Dewan Kesenian pada tahun 1968. Taufiq Ismail adalah seorang lulusan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia di Bogor pada tahun yang 1963 yang sudah berganti namanya menjadi Institut Pertanian Bogor.

Taufiq sudah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi, di antaranya: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.); Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970); Tirani (1966); Puisi-puisi Sepi (1971); Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971); Buku Tamu Museum Perjuangan (1972); Sajak Ladang Jagung (1973); Puisi-puisi Langit (1990); Tirani dan Benteng (1993); dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999).

Karangan Bunga juga termasuk di dalam antologi karya Taufiq Ismail yang berjudul Tirani dan Benteng. Puisi ini ditulis pada tahun 1966 saat terjadinya demonstrasi mahasiswa Indonesia melawan Orde Lama.

Ringkasan Puisi Karangan Bunga Karya Taufiq Ismail

Puisi yang ditulis di tahun 1966 ini memberikan sedikit gambaran mengenai apa yang terjadi di tahun 1966 saat mahasiswa Indonesia yang bergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) mendemo pemerintah Orde Lama yang saat itu masih dipimpin oleh Soekarno. Demonstrasi ini terjadi karena berbagai macam faktor. Tiga diantaranya, yang merupakan faktor paling utama dan juga merupakan tuntutan mahasiswa Indonesia pada saat itu adalah:

  1. Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya
  2. Perombakan kabinet Dwikora
  3. Turunkan harga sembako

Ketiga tuntutan ini kemudian dikenal sebagai Tri Tuntutan Rakyat atau Tritura. Tuntutan pertama dan kedua sudah diserukan sebelumnya oleh KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September Tigapuluh), sedangkan tuntutan ketiga baru diserukan saat itu. Tuntutan ketiga inilah yang kemudian menarik perhatian masyarakat sebab tuntutan ini menyentuh kepentingan orang banyak, terutamanya mereka yang berada di kelas menengah ke bawah.

PKI saat itu merupakan penyokong kekuatan terbesar yang Soekarno miliki. Memang, PKI telah membantu Soekarno saat beliau merasa dikhianati Angkatan Darat yang hanya setengah hati dalam meng”Ganyang Malaysia”. Alasan Soekarno membentuk gerakan “Ganyang Malaysia” ini didasari oleh adanya gerakan anti-Indonesia dimana para demonstran menyerbu gedung KBRI sambil membawa lambang negara Garuda Pancasila ke Tunku Abdul Rahman –yang merupakan Perdana Menteri Malaysia saat itu− dan memintanya untuk menginjak lambang negara. Saat itulah amarah Soekarno meledak.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Surat Dari Ibu Karya Asrul Sani

Angkatan Darat yang paham betul bahwa armadanya tak mungkin mampu melawan tentara Inggris, yang menyokong penuh pertahanan Malaysia, akhirnya melawan Malaysia setengah hati. Fakta ini membuat Soekarno merasa dikhianati, oleh sebab itu beliaupun meminta dukungan PKI. Namun, PKI memandang ini tidak sepenuhnya sebagai tindakan perlindungan atas tanah air, melainkan kesempatan untuk memperluas kekuasaannya di ranah politik Indonesia.

Kekuatan dan pengaruh komunis dari PKI yang semakin lama semakin membesar ini dikhawatirkan mahasiswa Indonesia. Mereka tidak ingin Indonesia lepas dari fundamental demokratis Pancasila yang merupakan jati diri rakyat Indonesia.

Kerja sama Soekarno dan PKI pun semakin lama semakin meresahkan, sebab jelas mereka tak mampu mensejahterakan rakyat. Perekonomian rakyat Indonesia saat itu sangat rendah, inflasi mencapai 650%, rakyat Indonesia terpaksa memakan makanan yang tak bergizi, bahkan memakai pakaian dari karung. Di tengah kemelut itu, menteri-menteri bidang keuangan dan ekonomi dari kabinet Dwikora malah membuat kebijakan yang semakin menyengsarakan rakyat. Beberapa kebijakan tersebut adalah kebijakan devaluasi rupiah lama ke rupiah baru (salah satunya adalah devaluasi dari Rp 1000 rupiah lama menjadi Rp 1 rupiah baru), dan juga kebijakan peningkatan harga bensin hingga empat kali lipat.

Kebijakan-kebijakan ini tentunya akan berdampak besar bagi perekonomian Indonesia yang pada saat itupun belum stabil. Harga-harga barang tentunya akan naik dan rakyat-rakyat kecilpun akan semakin sengsara. Hal inilah yang membuat mahasiswa gerah dan membuat mereka melakukan demonstrasi.

Mahasiswa pun merancang aksi demonstrasinya di Kampus UI Salemba. Beberapa kali mereka melakukan aksinya ini, namun tak digubris. Hingga suatu waktu, protes mereka membuat pitam Soekarno dan akhirnya Soekarno merespon dengan tegas bahwa ia tak akan membubarkan PKI. Keputusan Soekarno ini meledakkan amarah mahasiswa yang akhirnya menyebabkan kekacauan di Istana Negara. Salah satu mahasiswa, Arief Rahman Hakim, mati ditembak di tempat oleh pasukan Tjakrabirawa. Peristiwa inilah yang kemudian mendasari Taufiq Ismail dalam menulis puisi berjudul Karangan Bunga.


Analisis Singkat Puisi Karangan Bunga Karya Taufiq Ismail

Puisi singkat ini menggambarkan kejadian setelah terjadinya peristiwa penembakan terhadap seorang mahasiswa Universitas Indonesia, oleh pasukan Tjakrabirawa. Penembakan ini terjadi saat Alm. Arief Rahman Hakim berhasil menerobos pagar betis di Istana Negara dan menuntut keras pada Presiden Indonesia saat itu untuk membubarkan PKI beserta ormas-ormasnya. Tuntutan mahasiswa yang tak dipenuhi Presiden ini membuat suasana semakin pecah dan berujung pada tertembaknya Alm. Arief Rahman Hakim.

Also Read:  Ringkasan Puisi Pada Suatu Hari Nanti Karya Sapardi Djoko Damono

Kejadian ini sontak mengundang simpati dan duka seluruh rakyat Indonesia, bahkan simpati dari mereka yang tak paham akan apa yang terjadi dibalik demonstrasi ini. Mereka yang tak tahu-menahu ini digambarkan Taufiq dengan sosok ‘Tiga anak kecil’. Ketiga anak yang masih lugu dan ‘malu-malu’ ini hanya mengerti bahwa ini adalah kejadian yang menyedihkan dan tragis sebab seseorang telah meninggal.

Anak-anak yang polos ini datang ke Kampus UI Salemba, yang merupakan basis mahasiswa dalam melakukan aksi demonstrasinya, untuk menunjukkan belasungkawa. Karangan bunga berpita hitam yang mereka bawa semakin menegaskan suasana berkabung yang terjadi di tempat itu. Warna hitam pun disorot di dalam puisi ini untuk menggambarkan duka yang terjadi.

Alm. Arief Rahman Hakim disebut sebagai ‘Kakak’ di dalam puisi ini seakan-akan Arief adalah kakak kandung mereka sendiri. Hal ini menggambarkan kedekatan emosional anak-anak tersebut dengan Arief, bahwa apa yang dilakukan Arief adalah tindakan yang lumrah dilakukan seorang kakak untuk melindungi adik-adiknya dari kesengsaraan yang mereka alami.

Gaya Bahasa Puisi Karangan Bunga Karya Taufiq Ismail

  • Sudut Pandang

Taufiq menggunakan dua sudut pandang di puisi ini. Di 4 baris pertama ia menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Tampak dari penggunaan kata ganti ‘Tiga anak kecil’ di baris pertama, yang sama artinya dengan ‘mereka’.

Sedangkan untuk 5 baris terakhir, Taufiq menggunakan sudut pandang orang pertama. Hal ini tergambar jelas dari penggunaan kata ‘kami’ di baris ke-5 dan ke-7, seolah-olah sang penulis juga merupakan salah satu dari tiga anak kecil tersebut.

  • Simbolisme

Cukup banyak simbolisme yang digunakan di dalam puisi ini meskipun puisi ini tidak terlalu panjang. Dari judul saja ‘Karangan Bunga’ sudah menggambarkan duka yang terjadi dibalik penulisan puisi ini.

Also Read:  Ringkasan dan Analisis Puisi Dari Bentangan Langit Karya Emha Ainun Nadjib

Berikutnya adalah penggunaan subyek ‘Tiga anak kecil’ yang digunakan untuk mewakili pihak-pihak tak bersalah dan tak tahu-menahu akan apa yang diketahui oleh mahasiswa-mahasiswa pendemo ini. Akan tetapi ‘tiga anak kecil’ ini mengerti tragedi apa yang sedang terjadi, yaitu penembakan. Kata ‘malu-malu’ yang digunakan pun semakin menegaskan kenaifan dan kepolosan anak-anak tersebut.

‘Pita hitam pada karangan bunga’ mewakili suasana duka yang ada. Seperti yang kita telah ketahui, saat seseorang meninggal pasti akan banyak karangan bunga duka cita yang diantar ke kediaman orang yang meninggal tersebut. Warna ‘hitam’ disini sengaja dipilih untuk mewakili kesedihan yang ada, sebab warna hitam merupakan simbol warna universal yang mewakili kesedihan, kehilangan, dan kepedihan.

Terakhir adalah simbol ‘siang tadi’ yang mewakili kejadian yang terjadi di siang hari sebelumnya, yaitu insiden penembakan mahasiswa oleh pasukan Tjakrabirawa di Istana Presiden. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, peristiwa ini terjadi karena adanya demonstrasi mahasiswa yang menuntut Tritura.

  • Latar Belakang

Latar tempat: Puisi ini mengambil lokasi di Kampus UI Salemba, yang merupakan basis mahasiswa dalam mencanangkan aksi demonstrasinya menuntut Presiden Soekarno

Latar waktu: Ada dua latar waktu yang tersurat dalam puisi ini. Yang pertama adalah waktu sore hari dimana semua orang telah berkumpul di Salemba untuk berkabung, berduka atas meninggalnya Alm. Arief Rahman Hakim. Yang kedua adalah latar waktu di siang hari saat terjadi penembakan oleh pasukan Tjakrabirawa.

Latar suasana: Jelas tergambar suasana sedih dan berkabung dalam puisi ini. Suasana ini semakin jelas saat tiga anak kecil ini memberikan karangan bunga yang berpita hitam dan saat disebutkan bahwa ‘kakak’ tersebut mati ditembak